SAYA ALUMNI MAN MODEL BANDA ACEH

Majalah GEMA MAN Model Banda Aceh



Saya pulang tak begitu tergesa-gesa dan commuterline agaknya sedikit bersahabat setelah lewat magrib. Saya memikul kekasih setia di punggung "Om Mac" ada di situ. Bola mata saya kembali bergulir memaknai sederetan kalimat dalam Va Dove Ti Porta Il Euore-nya Susanna Tamaro.
"Kamu tahu kan Mac...suasana Commuterline pada jam-jam begini?" saya memindahkan Om Mac ke depan kini memeluknya lebih erat.
Terlalu berisik..ya saya tahu! Terlalu beraroma...itu juga saya paham, saya kembali menatap lembaran di tangan meski sesekali mata saya berpindah pada dua orang yg bercakap2 dengan volume yang menggunakan echo..Menarik! keduanya dengan senyum yg berbeda, satunya tampak gembira dan satunya tampak bahagia. Ah...bukannya itu sama saja? Tapi ternyata tidak... bahagia dan gembira seperti membandingkan cahaya lampu dan sinar matahari.
"Nanti kamu akan tahu apa beda keduanya" ujar saya berdiplomasi setiap kali Om Mac bertanya.
Saya tiba di rumah dengan 7 aroma parfum yg kebanyakan alkohol. Butuh waktu 5menit untuk meregangkan tulang punggung di kursi depan.
"Mac...Mari kutunjuki kamu apa itu gembira?" kerling saya sembari membuka bungkusan berisi majalah sekolah MAN Model Banda Aceh.
"Ah..Gembiramu ternyata begitu sederhana. Ketika wajahmu nampang di majalah sekolah?" nada Mac mengejek.
"Ya....itu gembira Mac. Tapi bahagiaku itu saat ilmu yg kutebarkan bisa dibaca semua adik2 di sekolah ini. Jadi, Mac apa kamu sudah tahu beda bahagia dan gembira?"
Mac melipat senyum tanpa suara mengeja berita tentang saya di lembaran majalah.

Comments

Post a Comment

Popular Posts