Tentang Maop

            Laki-laki ini dipanggil “Maop” atau berarti Hantu. Bukan kesan ngeri malah kesan lucu yang pertama kali tercetus di kepala saya saat pertama kali menyebut namanya. Jika bukan karena sebuah tag fotonya di home facebook saya saat aksinya mengambil sebuah tropi juara 2 lomba cerpen dalam bahasa Aceh, mungkin saya tak terlalu tertarik dengan laki-laki satu ini (hehehe..).

            Saya orang yang tak percaya dengan hal yang kebetulan. Saya pikir garis takdir memang mendekatkan saya dengannya. Lewat seorang teman, saya mendapatkan delapan digit angka dan huruf untuk terhubung dengannya, sebuah PIN smart phone yang sangat privacy bagi seorang Maop.

            Sejak masuk ke dalam dunia menulis, bagi saya setiap penulis adalah teman baru yang patut saya sambangi, secara pengalaman ataupun semangatnya. Karena saya sangat menyadari sebagai penulis yang masih terkena kutukan under dog harus pintar-pintar mencuri semangat dan sikap Istiqamah dari teman-teman penulis lainnya.

            Ternyata Maop bukan laki-laki yang mudah mencair dengan sosok teman baru. Apalagi saya belum pernah bertemu dengannya secara langsung. Semacam tiga perlakuan ketika mendeteksi uang palsu dilihat, diraba, diterawang, sebelum menentukan bahwa ini uang asli. Tentu saja Maop tak mungkin meraba dan menerawang saya (hehehehe) makanya perkenalan ini berjalan cukup lama baru kemudian mencair secair-cairnya hingga massa jenisnya setara dengan air (waduhhh?!).

            Saya tak menyangka bahwa Ilmu Palmistry (membaca garis tangan) dan Fisiognomi (Membaca garis wajah) yang saya pelajari justru mendekatkan saya dengannya. Tentu saja selain bahasan dunia menulis yang sama-sama kami geluti.

            Sebuah pertanyaan terdengar di ujung sana. Mengapa saya menulis tentang Maop? Karena ada dua hal yang saya peroleh darinya. Pertama, prihal selera tulisan dan bacaannya. Setengah mampus ia menghina tulisan saya yang bergenre metro pop yang kameusupay di matanya (hahahhaha) saya tak menolak dihina karena itu hanya masalah selera bacaan, tentu saja akan berbeda jika ia tertarik dengan Seno Gumira Ajidarma, Hamsad Rangkuti. Sementara bacaan saya tak akan jauh dari tulisan Alberthine Endah, Andrei Aksana, Ya... Saya pikir itu hanya soal selera saja. Tapi apa yang menarik dari sini? Dia berhasil mengompori saya untuk membaca semua genre tulisan tapi bukan mengubah genre tulisan saya, tentu saja setelah membombardir saya bukan hanya sekali bahkan berkali-kali dengan komentarnya yang pedas tentang tulisan saya. Saya pikir begitulah seharusnya seorang teman, tak selalu membenarkan apa yang dilakukan temannya, berkata jujur untuk kemajuan seorang teman. Untuk yang belum siap dengan komentar pembaca yang frontal seperti Maop, jangan sekali-kali menyodorkan tulisanmu ke depannya ya! (xixixixixi).

Yang kedua, tentang Hati. Ini hal yang berulang kali membuat saya terheran-heran. Maop ternyata laki-laki Bertampang Rambo Berhati Molto (warning!! khusus yang softener ya!) Terlalu cepat rasanya kalau saya mengatakan bahwa ia tipe laki-laki Merpati yang tak pernah ingkar janji (hayaaahhhh..) Itu penilaian agak lebay untuk seorang teman yang hanya berkenalan di dunia cyber apalagi belum ada bukti yang benar-benar real, karena nyatanya di usianya yang sudah dewasa ini dia belum jua menikah (hahahah).

Namun saya sadar satu hal dari komunikasi yang terjalin antara kami, bahwa ia pengagum wanita dan sangat menghormati wanita. Jaman sekarang, kecuali aktivis dakwah rasanya sangat jarang laki-laki setengah bengal memilih menyatakan cinta dengan cara jaman-jaman sahabat Nabi. Apalagi pernyataan “Aku Mencintaimu Karena Allah” hampir-hampir termakan jaman nyaris membuat saya tergelak, bahwa laki-laki bertampang Rambo ini tetap lelaki sederhana yang ingin jatuh cinta pada wanita sederhana, menggunakan Hijab dengan baik, santun dan malu-malu saat menatap (untuk yang terakhir ini saya jadi ingat adegan Siti Nurbaya bertemu Samsul Bahri J).

Di jaman yang katanya membebaskan siapa saja dalam bersikap dan bersuara, cara-cara seperti itu mungkin akan terkesan aneh, padahal seharusnya demikianlah aturan yang sebenarnya. Inilah yang membuat saya salut ketika ia menyatakan ia mencintai wanita tak harus dibawa-bawa pergi, apalagi sampai disentuh segala. Saya menghormatinya karena begitulah cara saya mencintainya itu pernyataan yang keluar dari mulut laki-laki yang bertampang garang ini, selalu menggunakan jeans dan asesoris di tangannya. Satu hal saja pendapat saya tentang Maop, laki-laki dengan tampang urakan namun tak urakan dalam hal mencintai wanita (sedaaappp).

Tulisan ini bukan untuk mempromosikan seorang Maop (tapi, kalau ada yang sesuai kriteria di atas, boleh silahkan mendaftar hahahah). Tulisan ini hanya sekedar mengabadikan pertemanan saya dengannya, dan tentu saja tulisan ini murni versi saya. Karena setiap Tokoh ada masanya dan setiap masa ada tokohnya. Ke depan mungkin, saya akan jauh darinya dan beberapa hal mungkin akan membuat pertemanan kami menjadi renggang karena kesibukan atau hal-hal yang lainnya. Namun setidaknya tulisan ini bisa menjadi bukti bahwa kami pernah berteman sangat baik.

****
Jakarta, 04 April 2012
Teruntuk Maop,
Maaf ya....Kubongkar sebagian xixixixi


Comments

Popular Posts