Bahasa



Sepulang ngajar siang tadi saya sempat bertemu banyak orang di angkutan umum (sepeda saya minta cuti sebentar berhubung hujan terus)ada penumpang yang naik ada juga yang turun, bermacam raut wajah saya temui di situ, dengan beragam bentuk dan juga bahasa yang mereka gunakan.
Sebagian besar menggunakan bahasa Indonesia dengan bermacam dialek pula. Ada sebagian menggunakan bahasa jawa, sunda juga betawi. Saya jadi terkagum-kagum dengan semaraknya khasanah bahasa di Indonesia. Begitu banyak bahasa yang digunakan untuk saling berkomunikasi dan mengungkapkan perasaan.
Tempat tanah kelahiran saya sendiri  di tanah rencong sana, selain menggunakan bahasa aceh ada banyak bahasa yang masih tetap eksis digunakan di sana, bahasa aneuk jame (mirip bahasa minang), bahasa gayo, bahasa alas, bahasa devayan dan bahasa kluet (mirip bahasa batak karo) wuiiiiihhhhhh,…di aceh saja begitu banyak bahasa (konon lagi di seluruh Indonesia).
Saya jadi berfikir  selain sebagai pengantar komunikasi, bagaimana fungsi bahasa dalam bentuk yang lain dalam hidup kita??? Saat  ini, ternyata bahasa bukan lagi sebagai deskriptif, melainkan generative dan kreatif *loh kok jadi ribet begene ya…J. Maksudnya bahasa-bahasa itu juga dapat menciptakan peristiwa-peristiwa.
John Osteen  (dalam buku Tafsir kebahagiaannya kang Jalaluddin rakhmat) memberikan contoh bahasa dapat menciptakan peristiwa-peristiwa, pada ritual pernikahan di gereja.
Si pendeta mengatakan “I know you are a husband and a wife”
Lalu kedua mempelai mengatakan “ I do “
Dari bahasa itu, pendeta akan mengatakan “ you may kiss??”
Kemudian, ciuman itu tidak akan terjadi jika salah satu mempelai mengatakan “No”. sebaliknya jika mengatakan “Yes”  maka kedua mempelaipun akan berciuman.
Begitu juga dalam islam sebuah hubungan wanita dan pria menjadi halal setelah adanya Ijab dan Qabul dalam sebuah akad nikah. ah, ternyata ini salah satu fungsi bahasa yang kurang saya sadari *jadi malu sendiri :D.
Ada sebuah lagi pelajaran penting yang saya dapatkan dalam fungsi sebuah bahasa. Yaitu dalam hal mengontrol bahasa.
Ada pepatah yang mengatakan bahwa mulutmu adalah harimaumu. Kebahagiaan dan ketidakbahagiaan kita bisa saja muncul dari bahasa yang kita gunakan. Retaknya persaudaraan, persahabatan bahkan hubungan suami istri bisa terjadi karena bahasa yang kita gunakan. Cekcok itu bisa mereda atau bahkan menjadi semakin keruh tergantung dari bahasa yang kita gunakan selanjutnya.
Ketika amarah memenuhi pikiran, ketika esmosi merajalela di hati, mampukah kita memilih bahasa yang tepat saat kita melepaskan amarah??? Saat marah mungkin yang terlihat di mata kita hanyalah hal-hal yang buruk saja, pada akhirnya bahasa yang kita gunakan justru semakin menyakiti hati dan memperumit keadaan.
Menyomot kata-katanya Chalmers Brothers dalam bukunya Languange and The Pursuit of Happiness. Bahasa dapat membuat hati bahagia atau berduka. Jadi, jika kita ingin bahagia dalam hidup, ciptakanlah bahasa-bahasa atau cerita-cerita baik dan selalu membangun prasangka positif.  
Ah, postingan ini benar-benar sebagai warning buat saya yang terkadang kurang memiliki control bahasa ketika emosi datang.

Comments

Popular Posts