Garden

GARDEN,...
By
Aida M Ahmad


            Jiwaku terjaga mendengarkan nada yang kau bisikkan lewat bunga tidurku. Seperti desahan hujan menjamahi rumput liar di halaman rumahku. Apakah kau ingat bagaimana dulu taman kita berbunga lalu berbuah???. Hanya kecupan mesra yang kau hadirkan, padahal tlah seminggu hujan tak menyambanginya.
            Kini musim hujan mendahuluimu meranggas taman kita. Beberapa bunga lily api berjatuhan setelah seminggu merekah. Tampiasan hujan membuat mataku terpejam sejenak menikmati sensasi sejuknya. Bukankah dulu kita selalu menunggu saat-saat di bawah dahan akasia, merasakan tiap tetes hujan yang mencuri jatuh di sela-sela daun, membuat tubuh kita saling berpelukan.
            Tanganku mengitari tiap helai daun di taman kita, melangkah pelan menyapa tiap bunga yang sering kita sapa bersama. Kulihat hujan masih mengembun di balik jendela kamar, berharap kau berdiri di sana, memandangku memapahku untuk masuk, mengeringkan tubuhku yang kebasahan oleh rindu.
            Cipratan hujan membuat labirin-labirin kecil di kolam depan taman. Aku menggigil menahan nyeri. Seperti hujan yang telah menciptakan rindu di hatiku, kini juga menghadirkan perih di jiwaku. Hanya satu tanya tersisa di ujung bibirku yang membeku.
            Apakah kau akan kembali melihat taman kita?? memberikan sebuah kecupan yang lebih menggairahkan dari tiap tetesan hujan??
            Hujan kini mereda, namun hujan di hatiku tak pernah mereda.....hingga suatu saat ku lihat bayanganmu di antara taman kecil kita.

 Jakarta, 29 March 2011
Ketika hujan, bersama petrichor.


Comments

Popular Posts