Pola Relasimu Menunjukkan Kehidupan Seksualmu?

 

sumber foto dari sini



Dulu sekali, waktu usia saya masih remaja. Kerapkali mendengar paman dan tante yang selalu ribut, namun lucunya, tiap selang setahun mereka terus memproduksi anak. Maaf ya, saya memang menyebutnya memproduksi karena realitanya mereka melahirkan anak diantara keributan yang tak kunjung selesai. 


Meski akhirnya, seperti yang diduga oleh keluarga besar, mereka berpisah. Namun, di luar sana masih ada yang tetap bertahan, dengan perselisihan yang tak kunjung usai, tetap berhubungan intim bukan karena menunjukkan saling peduli dan cinta, hanya sebatas mengatasi emosi atau mengalami insecurity sehingga diselesaikan dengan kegiatan seksual.


Pernah dengar kan ya, ada yang bertahan dalam sebuah hubungan karena seks-nya enak? Mungkin ini salah satunya, penyebab seseorang bertahan dalam hubungan bermasalah. Sehingga ketika trauma pun tetap tidak ingin berpisah, malah terjerat dalam ikatan trauma bonding itu sendiri. Akibatnya apa? Konflik terus berjalan, insecure semakin meningkat, mental semakin tidak sehat.

 

Saya membaca beberapa penelitian, termasuk penelitian yang dilakukan oleh Dr. John Gottman, seperti The Seven Principles for Making Marriage Work dan The Sceince of Trust, hal ini membahas cakupan wawasan tentang bagaimana keintiman seksual, komunikasi dan kepuasan emosional saling terkait dalam konteks hubungan romantis.


Ada beberapa jenis keterikatan relasi yang dihubungkan dengan pola hubungan intim berpasangan, hal ini dapat menggambarkan bagaimana keterikatannya dengan gaya hubungan pada kehidupan seks seseorang.


a. Anxious Attachment (Keterikatan Karena Cemas). Hubungan relasi ini memiliki kebutuhan seksual yang cenderung tinggi, karena bagi orang-orang yang cemas, seks sebagai cara untuk merasa aman dan terhubung. Mereka menganggap bahwa daya tarik seksual itu sebagai cara untuk menjaga keterhubungan dengan pasangan. Sehingga seks dijadikan sebagai cara agar tidak ditinggalkan dan berharap untuk dicintai. 

Keterikatan seperti ini bisa tampak dari seseorang yang senang sekali menggunakan seks sebagai cara untuk menyelesaikan konflik atau sebagai pengganti keintiman emosional, ya mirip paman dan tante saya tadi. Ribut selalu dan beranak terus. Hal ini biasanya juga terjadi pada orang-orang yang mengalami kecemasan, sehingga melakukan hubungan intim dengan durasicepat, karena sekali lagi seks hanya dijadikan sebagai sebuah cara untuk mengurangi kecemasan mereka sendiri. Takut ditinggalkan, takut pasangan berpaling, jadi menggunakan senjata seks agar tidak ditinggalkan (wahh..)


b. Avoidant Attachment. Ini justru sebaliknya, karena merasa tidak nyaman, akhirnya dorongan seksual pun rendah. Ada ketakutan untuk terkoneksi secara emosional dengan pasangan, dan sering terlihat menjauh atau menutup diri. Lalu merasa lebih nyaman jika hubungan itu terkesan santai dan kurangnya aktivitas seksual dalam hubungan. 


Keterikatan ini bisa kita tandai dengan tidak adanya seks dalam pikirannya atau tidak menikmati seksual, jikapun melakukan hubungan seksual memilih tanpa koneksi emosional, kebanyakan  mereka yang berada pada gaya relasi ini, menjadikan seks hanya sebagai kebutuhan pasangan bukan sebagai kebutuhan bersama.


c. Disorganized Attachment. Gaya ini memiliki kecenderungan secara umum terhadap seksual, yang bisa menyebabkan kerentanan dalam kecanduan seks tanpa melibatkan perasaan. Kadang juga sebaliknya totally menghindari kegiatan seksual. Karena sulit memercayai orang lain, akhirnya membuat seseorang menutup koneksi emosional yang bisa didapatkan dari berhubungan seksual.

 

Hal ini bisa kita lihat dari prilaku seseorang yang tidak menikmati seksual atau memilih seks tanpa ikatan emosi, menghindari seks sebisa mungkin. Pointnya dia enggak mau sama sekali terikat secara emosi dengan siapapun. Jika pun mengalami kecanduan seksual bukan atas dasar perasaan, hanya sebagai kegiatan biologis tanpa ikatan emosional. 


d. Secure Attachment. Kecil kemungkinan ada perasaan cemas atau rasa takut dalam sebuah hubungan. Bagi pasangan yang secure menjadikan seksual sebagai cara untuk mengekspresikan cinta. Sehingga mereka yang merasa secure akan memilih hubungan jangka panjang, bukan cinta pada tahap remaja yang super insecure. 

Jadi pada hubungan ini, seks dijadikan sebagai bentuk ikatan, sebuah cara menunjukkan kasih sayang yang membuat sepasang kekasih terhubung satu sama lainnya. Karena ikatan ini menunjukkan perasaan cinta, akan ada kenyamanan, sehingga mampu menciptakan eksperimental dan spontanitas dalam hubungan, pada hubungan yang secure ini juga bisa kita jumpai pasangan yang jujur secara seksual, dan terakhir mereka lebih memperhatikan kebutuhan seksual pasangan, keduanya saling memberikan kebahagiaan.



Nah, sekarang kamu bisa cek nih, seperti apa hubunganmu dengan pasanganmu, sehingga membentuk kebiasaan juga dalam hubungan seksual. Jika belum mencapai secure, mulailah membuka obrolan lebih dalam dengan pasangan, tentang hubunganmu berdua. Komunikasi yang asertif sering menghasilkan perbaikan di masa depan. 

Love

Aida Ahmad



 




Comments

Popular Posts