Saya dan ECPAT Indonesia

Sahabat ECPAT Indonesia

Hidup ini memang menarik ya, energi akan membawa kita pada frekuensi yang sama. Cerita dan perjalanan hidup saya tidak pernah terlepas dari penguatan mental, pemulihan diri, dan uniknya saya sangat berfokus pada generasi muda, remaja dan anak-anak. Bagi saya mereka adalah pribadi yang unik, karena keunikan mereka, sebagai orang dewasa saya merasa perlu membersamai mereka melewati proses tumbuh kembangnya agar tangguh di usia dewasa. Bukan hanya sekadar tangguh, tapi juga menjadi pribadi yang self awareness sehingga memahami dirinya sendiri. 

Banyak orang yang bermasalah mentalnya hari ini, karena luka pola asuh, karena trauma panjang di masa anak-anak, tidak pulih membuat karakter diri yang toxic dan tidak menyenangkan. Saya sudah melewati itu, namun self awarness telah membawa saya untuk memutuskan tali luka di masa lalu itu hanya pada diri saya sendiri.

Satu kali saya menceritakan pada quantumate, mengapa ya.. Kok kayaknya tarikan energiku selalu pada anak-anak, aku merasa penting dan harus menjaga mereka dari kejahatan orang dewasa, bukan hanya kejahatan pada kata-kata dan labelisasi, namun juga pada kejahatan seksual yang kerap kali meninggalkan trauma panjang pada si anak.

Saat itu my quantumate said, karena kamu sudah dipilih untuk membersamai remaja dan anak-anak. Karena kamulah yang paling tahu seperti apa rasanya menjadi mereka di kala anak-anak, dan seperti apa rasanya menjadi orangtua yang anak-anaknya diperlakukan secara toxic. Kamulah yang paling memahami itu.

Sebelumnya, saya sempat lama berdamai dengan hal-hal yang tidak nyaman ini. Namun, akhirnya ternyata inilah jalan yang dipilih semesta untuk saya jalani.

Begitupula saat pertemuan saya dengan teman-teman di ECPAT Indonesia, sebuah berkah yang saya syukuri. Core issue mereka yang begitu unik membuat saya langsung terkoneksi dengan mereka. Isu eksploitasi seksual pada anak, bagaimana mendorong pemerintah dalam upaya perlindungan pada anak, bagaimana mengedukasi anak-anak supaya sehat berdigital, mengenal orang-orang yang berusaha untuk merusaknya dan menjebaknya dalam lingkaran kejahatan seksual.

Meeting pertama di ECPAT

 

Des Marinta teman saya saat duduk di bangku SMA terhubung kembali saat kami sama-sama di Jakarta. Anaknya yang kebetulan belajar menulis di penerbitan saya, sehingga komunikasi kami kembali terjalin lagi. Des kebetulan bekerja di ECPAT sebagai finance. Ialah yang kemudian menghubungi saya untuk menerima pekerjaan sebagai trainer di lima kota dalam pendampingan anak-anak korban eksploitasi seksual. 

Meeting pertama dan kedua, kami membahas bagaimana flows kegiatan ini berlangsung. Sehingga ideal dan mencapai goals di lima kota tersebut.

Meeting Kedua, Persiapan 5 Kota
Final Meeting Flows Kegiatan

 

Begitulah akhirnya saya bekerjasama dengan ECPAT dan didanai oleh Kementrian PPPA. 

Cerita perjalanan mendampingi anak-anak di lima kota akan saya cerita pada postingan selanjutnya ya.

 

Salam

Aida Ahmad

Comments

Popular Posts