SLOW LIVING

 

Psikososial anak-anak penyintas-Solo

 

Setiap mau berangkat ke sekolah, Nazira suka nanya.

“Kalau aku udah berangkat sekolah, bunda mau ngapain?”

“Mau tidur lagi” kata saya.

“Ishhh, enak banget hidupnya..” mukanya tampak sebel.

 

Tapi sebenarnya memang begitu kok, saya enggak begitu suka dengan ritme hidup yang dimulai tergesa-gesa di pagi hari, 9 to 5 harus standby di kantor. Bagi sebagian orang mungkin ini menyenangkan, but seriously ini bukan untuk saya. Kebanyakan saya bekerja di atas jam 10 pagi, atau jika ada kegiatan yang mengharuskan pagi-pagi sekali, saya juga berkenan, tapi bukan menjadi runititas.

 

Jadi, apa bedanya antara orang yang malas dengan orang yang memilih slow living?

Orang malas jelas tidak memiliki kontribusi apapun dalam hal sosial atau isu-isu publik. Sementara orang-orang yang memilih hidup santai, sebagian dari kegiatan hidupnya ya diisi untuk isu sosial, isu publik dan sisanya baru untuk kegiatan produksi atau ekonomi.

 

Sebenarnya dalam hidup ini, kita memiliki beberapa kegiatan, kegiatan ekonomi atau produksi (kata umumnya nyari duitt), ada kegiatan bereproduksi berkembangbiak, kegiatan berpolitik atau empowering, kegiatan sosial dan terakhir kegiatan refreshing atau menyalurkan hobi?

 

Nah orang-orang slow living alias santai, tidak begitu banyak menghabiskan waktu untuk kegiatan ekonomi atau produksi,  kegiatan yang mereka lakukan setengahnya ekonomi dan setengahnya kegiatan yang bernilai kontribusi dalam hidup bersama masyarakat luas dan melakukan gerakan perubahan.

 

Kok kayaknya berkesan enggak butuh uang ya? Enggak gitu kali maksudnya, kami yang hidup slow living juga bekerja, perlu biaya untuk kebutuhan hidup, tapi kami tidak ngoyo, enggak ambisius untuk ngumpulin pundi-pundi,  makanya orang-orang slow living enggak menikmati 9 to 5. Kok ga ngonyo nyari duit? Karena enggak punya kebutuhan juga untuk pengakuan “borjuis” dari kepemilikan kekayaan, makanya bisa dilihat orang-orang slow living ya berkesan hidup sederhana. 


Comments

Popular Posts