GRIEF AND LOSS COPING MECHANISM





Terkadang, bagi sebagian orang, kehilangan adalah bagian yang dianggap tidak membutuhkan drama panjang, lalu menjudge bahwa kesedihan orang lain dianggap sikap manja, sounds like emphatyness

Sedih ya jika ada orang yang seperti ini. Empati bahkan tak seujung jari

Satu kali, setelah mengisi IN-SIGHT sesi materi kehilangan dengan para coachee, saya mendapatkan pesan personal. Kehilangan yang dia rasakan pada anak yang baru dilahirkannya, pertemuan mereka hanya sekitar 5 jam. Namun setelah 5 jam anaknya pergi dan tinggallah jenazah bayi baru lahir itu menjadi kenangan yang sangat menyakitkan.

Apa saya berlebihan merasakan kesedihan? Apa saya terlalu manja untuk merasakan kehilangan?

Saya katakan padanya, kehilangan tidak boleh dinilai oleh siapa pun dengan penilaian yang terkesan manja atau berlebihan, karena setiap orang punya pengalaman masing-masing. Terutama ketika kehilangan darah daging sendiri. Anak yang sejak hari pertama, bagi seorang ibu, ketika ia tahu bahwa ada calon bayi dalam tubuhnya, sejak hari itu pula seorang Ibu merasakan jatuh cinta padanya, meski belum bersua.

Saya pun pernah mengalami itu, kehilangan janin dalam kandungan, anak yang kami cintai dan ditunggu kehadirannya. Namun harus pergi tanpa pamit. Selama pernikahan, bahkan saya mengalami keguguran dua kali. 

Saya shock? Tentu. Ayahnya jauh lebih bersedih. Saya bahkan sempat menyalahkan diri sendiri. Karena terlalu sibuk, tidak berusaha sekuat mungkin menjaga kehadirannya.  Saya terlalu pede dengan kehamilan anak pertama yang semuanya tampak baik-baik saja (tentu usia saya saat itu masih di bawah 30 tahun). Namun tidak berlaku bagi Deelat. Saat usia saya sudah tidak muda lagi, ternyata butuh ekstra penjagaan dan persiapan. Dalam kondisi normal, saya bahkan tidak punya sakit apapun. Namun, saat hamil apa saja bisa terjadi. Begitu nasehat dokter saat saya dikuret.

Lagi-lagi semua cerita, tentu ada jalan dan sebabnya, saya dan ayahnya belajar memahami, bahwa kepergiannya menjadi kisah yang selalu kami ingat sampai kapanpun. Sehingga namanya selalu melekat di semua kegiatan kami. Dalam komunitas pergerakan kami, pada anak-anak ideologis yang akan kami didik nanti. 

Melewati masa sulit memang membutuhkan dukungan. Saat sedih ayahnya menenangkan hati saya "Hamil atau tidak hamil, aku selalu mencintaimu, aku selalu merindukanmu. Bagiku, Mak Deelat jauh lebih penting daripada kehilangan calon bayi kita, Deelat. Aku jauh lebih khawatir dengan kesehatanmu.."

Baginya, saya tetap akan dipanggil Mak Deelat. Mungkin ke depan anak kami benar-benar akan hadir di saat yang tepat, saat saya dan suami dalam kondisi yang tenang.

Siapapun pasti merasakan kehilangan. Tidak apa-apa, saat ini mungkin terasa berat, namun pelan-pelan semua akan baik-baik saja.

Dalam teori Kubler, setidaknya ada empat tahapan kehilangan yang umum dirasakan oleh seseorang. Tahapannya ini tidak selalu steps demi steps. Bisa jadi kita menolak di awal, ada yang mengalami depresi, ada juga yang menggunakan skenario what if, namun ada yang langsung mengalami penerimaan dan Mindfulness. Tahapannya akan berbeda-beda pada masing-masing orang ya.

Kehilangan dapat melibatkan beberapa tahap emosional, tahapan ini ga selalu sama. Kita bisa jadi melewati tahap yang lain atau melewati semua tahapan. 
  1. Penyangkalan: Kesulitan menerima kenyataan kehilangan, mungkin ada perasaan ga yakin, bahwa kondisi seperti ini tidak mungkin terjadi.

  2. Marah: Merasa marah atas keadaan atau entitas yang dianggap bertanggung jawab atas kehilangan yang kita alami.

  3. Tawar-Menawar: Berusaha untuk bernegosiasi atau mencari cara untuk memperbaiki situasi, meskipun mungkin tidak mungkin. Kalau saja, saya lebih perhatian, kalau saja... Dsb.

  4. Depresi: Mengalami kesedihan mendalam, kehilangan minat, dan mungkin menarik diri dari aktivitas sehari-hari.

  5. Penerimaan: Menerima kenyataan kehilangan dan mencari cara untuk melanjutkan kehidupan dengan mengenang orang atau hal yang hilang.

Saya sendiri mengalami kehilangan Deelat dengan dua tahapan. Skenario what if  tawar menawar, kalau saja saya memilih bedrest mungkin Deelat masih ada, lalu tahap selanjutnya saya sudah belajar menerima. Mungkin di sini juga peran suami, pasangan yang saling mencintai dan saling mendukung akan membawa kita mengalami recovery yang lebih cepat.

Saya tahu, ini bukan hal yang mudah. Namun, mau tidak mau, kita akan melalui setiap kehilangan itu dengan menerimanya, karena penerimaan seringkali membawa kita pada ketenangan.


Catatan Kehilangan Deelat

Mak Deelat.

  


Komentar

Postingan Populer