Syarah Cinta-Rumi, Menggenapi Munakahat


 

Saat sepaket buku sang Maulana itu tiba di beranda rumahku, segenap debar memenuhi jagad rasa. Tak biasa, benar ini sungguh tak biasa. Apakah bisa kau bayangkan, bagaimana syarah cinta dalam tiga dimensi pemikiran Rumi menjadi azimat sakral dalam peristiwa munakahat?

 

Satu pagi di kota Brastagi yang dingin


Aku membalik-balikkan tujuh buah kitab Rumi, dimulai dari Semesta Matsnawi hingga Surat-surat Rumi yang sarat makna. Seperti aku yang mengagumi Rumi pada Magnum Opus karyanya Matsnawi Maknawi, bahwa segala hal yang dimulai dengan kesakralan cinta, bahwa penciptaan alam beserta isinya atas rasa cinta yang dimiliki Tuhan dalam tujuan penciptaan. Mencintai itu adalah sifat Tuhan. Rasa itu tak akan mencelupi jiwa tanpa proses mengenal dan membersamai.

 

“Aku Tak Mau Mati, Sebelum Mengenalmu dan Menemukanmu”

-Jalaluddin Rumi-

-Matsnawi Maknawi-

 

Banyak sekali moment kontemplasi dalam puisi-puisi Rumi. Saat kuajukan kitab itu padamu, kau segera menyetujuinya, seakan kau telah lama mengenal jiwaku, tiap detak dalam perjalanan hidupku. Menemukanmu seperti menyatukan satu partikel atom yang sama, karena dipisahkan pada ratusan tahun cahaya, namun pada jarak yang membentang itu, kau merasakan apa yang kurasakan, kumerasakan apa yang kau rasakan. Kita adalah partikel yang sama terpisah jarak lalu dipertemukan dalam sebuah quantum menjadi quantumate dalam makna yang demikian dalam.


“Kau yang kutemui di Ayani, bukan kau yang kutemui di Ayana.

Kau yang kusentuh hari ini, bukan kau yang kusentuh kemarin lusa.

Dirimu, setiap hari menjadi baru.

Kuingin terus tahu.

Bagian dirimu tak pernah selesai kusingkap.

Tiap waktu, warna warni bunga cintamu kutatap”

-AR Poem-

Pada ucapan sakral di sore itu, Syarah Cinta Jalaluddin Rumi dilafadzkan sebagai bagian dari Arkan. Hanya seribu satu wanita kata mereka, dan itu aku, setujumu. Kita berdua telah menyulut obor di tangan untuk membakar habis seluruh rumah keegoan yang kita miliki. Menyambut jiwa yang baru, menyerah dan tunduk tanpa syarat, aku tetap ada di dalam kau, karena aku adalah kau. Kita telah memahami ini, karena telah melampaui dari pikiran kita sendiri.

 

Rooftop moment


Setiap pencinta akan menanamkan “ada” pada ketiadaan, hingga menjadi sebuah keberadaan, seperti aku yang mampu melihat wajahmu pada debur ombak, pada bisik angin atau pada pucuk pohon yang menguning. Sore itu, dipersaksikan oleh dua orang dan wali munakahat, kau sebut namaku. Langit berlapis menggetar di sana, salawat membahana hingga ke dalam inti bumi. Maka sahlah pertemuan quantumate dalam bingkai exlusivitas.

 


a moment to remember at Nanggroe

Selamat menjadi satu jiwa, tidak ada lagi pencarian musim semi hingga ke ujung dunia, kita telah mengumpulkannya di sini menjadi kita.

 

Seperti Siang dan Malam.

Siang jatuh cinta pada Malam

Dan kehilangan kendali atas dirinya sendiri;

Ketika kau melihat ke dalam batin, kau akan melihat

Bahwa Malam bahkan lebih jatuh cinta lagi pada Siang.

(Semesta Matsnawi-Jalaluddin Rumi).

 

Aceh, 2023

Quantumate Love.



 

 

 



 

Comments

Popular Posts