Strawberry Generation v.s Strawberry Parents


Saya melahirkan Nazira saat umur saya jelang 25 tahun. Tepatnya 15 tahun lalu. Yess, gadis yang di sebelah saya ini baru berumur 15tahun. 

Ingat banget dulu, waktu saya seumuran Nazira, saya juga dikira sudah SMA karena fisik SMP saya juga tinggi (cuma dulu kutilang hehhe) Nazira bahkan dikira sudah kuliah. Bukan karena badannya yang bongsor (karena di sekolahnya lebih bongsor dari dia buanyakkk) dia dikira sudah kuliah karena cara bicaranya, cara ia menyapa, cara berpikirnya, cara ia bertanya dan cara ia menanggapi sebuah masalah.


Satu kali kami makan bertiga bersama admin saya di @maslamahpublishing pertanyaan kakak admin sederhana. 

Kak Aida, gimana kok bisa didik anak, bisa sedekat ini sama kakak? 

Saya minta Nazira yang jawab pertanyaan itu.
Karena Bunda enggak pernah bikin aku takut cerita apapun sama dia. Aku segan sama Bunda, tapi sangat terbuka sama Bunda. 95% lebih bunda tahu semua hal tentang aku dan semua hal aku cerita sama bunda. Bunda ga suka menakuti anaknya dia mengajarkan disiplin dg cara enjoy bukan dg hukuman, makanya buat aku, satu-satunya tempat curhat terbaik ya sama bunda.

Saya mungkin ibu yang berbeda. Karena nilai sekolah bukan hal penting. Saya tidak pernah khawatir tiap masa ujian sekolah tiba. Saya selalu meminta Nazira, yuk enjoy dengan ujian, hasilnya enggak nentuin kakak zira bodoh atau pinter. 

Toh Nazira tetap belajar enjoy tanpa tekanan nilainya harus begini begono. Buat saya, mental dan psikis anak tangguh jauh lebih penting. Karena ujian hidup lebih berat dari ujian di sekolah.

Saya ingat kata dari Frederick Douglass
"Its easier to build strong children than fix broken men"

Membentuk anak yang kuat secara mental lebih mudah daripada memperbaiki generasi yang sudah rusak"

Mungkin kita sudah sering mendengar bahwa ada strawberry generation, namun ternyata banyak juga strawberry parents. Bisa jadi anak-anak kita hari ini menjadi lembek karena pola asuh yang dilakukan oleh orang tuanya. Segera mengambil alih luka anak, segera menjadikan anak sebagai orang yang terus dilayani, padahal mereka perlu belajar tanggung jawab dan disiplin. Bahkan kita mengajarkan anak menjadi victim mentality. Bahwa kegagalannya hari ini karena kesalahan orang lain. Kita menekan anak dengan nilai yang bagus, memaksakan mereka menjadi perfeksionis, bahaya sekali ketika anak sekali saja gagal ia menjadi sosok yang uring-uringan karena kita paksa menjadi sempurna. Padahal, apa masalahnya menjadi orang yang salah atau menjadi pihak yang kalah? Bukannya dulu kita pernah mengalami hal yang sama, dan itu menjadi salah satu pembentukan karakter diri kita hari ini?

Menjadi orangtua memang tak mudah. Karena yang kita bentuk adalah karakter manusia, karakter yang diharapkan tak mudah jatuh saat dihina tak lupa daratan karena pujian.

Diana Baurimd membagi parenting menjadi 4 style, karena ini lah style parenting yang ada di sekitar kita. 

Pertama. Authority, anak dijadikan subjek  dan harus mengikuti apapun yang diatur oleh orangtuanya, sehingga banyak sekali intervensi orangtua kepada anak. 

Kedua. Permissive. Memberikan apapun yang diinginkan anak. Buruknya tidak menuntut anak untuk bertanggungjawab atas prilaku dirinya. Misal dibelikan HP tapi tidak dijaga lalu rusak. Orangtua permissive akan membelikan lagi HP yang baru 

Ketiga. Authoritative, orangtua yang belajar dengan ilmu dan pengetahuan, mengajarkan anaknya tanggungjawab, memanage waktu, belajar mengelola emosi dan meng-handle masalahnya.

Keempat. Uninvolved. Jenis orangtua ini lebih buruk dari permissive karena masing-masing sibuk dengan diri sendiri. Anak sibuk sendiri dan orangtuanya pun sibuk sendiri. Makanya enggak jarang kita temui anak yang tiba-tiba jatuh ke danau karena orang tuanya lalai. Orang tua jenis ini sedikit sekali memberikan arahan untuk anaknya.

So.. kita di posisi yang mana?

Many believe that parenting is about controlling children's behavior and training them to act like adults- L.R Knost.








Comments

Popular Posts