KEUTAMAAN BERDOA DI RAUDHAH



Kubah Makam Rasulullah


Salat subuh pertama di Masjid Nabawi, bersama ribuan jamaah dari berbagai negara, musim dingin yang menggigit rasanya tak mempan menahan gejolak rindu yang sangat besar ini. Posisi hotel kami hanya berjarak 200 meter  menuju Masjid Nabawi, dari jendela kamar, saya bisa melihat orang-orang yang berjalan kaki menuju Masjid, aroma kamar hotel, aroma Masjid Nabawi, aroma kota Madinah semuanya bisa saya ingat dengan sangat detil, rasanya masih melekat di antara rongga hidung ini.





Melihat payung-payung yang mengembang di pelataran Masjid membuat saya merinding berulang kali, begitulah saya tiba di sini dengan segala kesulitan yang ada, dengan segala kelelahan akan urusan dunia. saya sengaja tidak memakai pakai roaming selama ibadah umrah, saya hanya mengandalkan wifi hotel untuk berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia, menelpon Mama yang selalu minta didoakan khusus untuk adik saya, saat itu ada sedikit konflik antara adik yang paling bontot dengan Mama, yaaa biasalah anak muda yang kurang bisa mengkomunikasikan hal-hal yang seharusnya bisa dikomunikasikan dengan kepala dingin.




Setelah salat subuh pertama di Madinah, pagi-pagi kami sudah bersiap-siap menuju Raudhah, Massayaa Allah antrian menuju Raudhah ini tidak tanggung-tanggung panjangnya, bagi sahabat ingin Umrah, Raudhah salah satu tujuan yang sangat penting selama di Madinah.



Raudhah adalah posisi antara mimbar dan kamar Rasulullah, dan saat ini beliau dimakamkan di Raudhah bersama dua sahabat terkasihnya Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar bin Khatab. Rasululah sendiri yang mengatakan, bahwa perbanyaklah berdoa di sini dan mintalah syafaat di Raudhah agar doa-doa ini tiba di pintu langit dan syafaat untuk hari akhir.



Saat itu saya bersebelahan dengan jamaah dari Malaysia, pemandunya memberikan tausyiah di sela-sela antrian, setiap jamaah memang hanya mendapat waktu 10 menit untuk shalat dan berdoa di Raudhah. saking begitu banyaknya orang yang ingin berdoa dan memberikan salam pada Rasulullah, semua jamaah seakan tak ingin cepat-cepat berlalu dari Raudhah, sehingga jatah yang 10 menit tadi seringkali  molor dan mengakibatkan antrian yang super panjang.



Saya mendengarkan tausyiah berbahasa melayu itu dalam diam. kalimatnya seperti ini.



"Ibu-ibu yang tiba di sini, bukan karena ibu kelebihan harta, karena banyak orang yang kelebihan harta tapi tidak dibawa kemari, ibu-ibu yang tiba di sini bukan karena sangat hebat, karena banyak orang hebat tak tergerak hatinya menuju Nabawi. Kita ada hari ini di sini di depan makam Rasulullah, semata-mata Allah lah yang memperjalankan kita hingga tiba di sini, Kita yang mengaku Ummatnya Rasulullah, bahkan tidak pernah bertemu beliau, merasakan rindu, merasakan keinginan untuk menyapa beliau meminta syafaatnya di depan mimbar beliau. Karena kita paham betul, kita ini hanya ummatnya yang sering lupa, jahil bahkan seringkali tidak mengikuti ajarannya.



Saat itu air mata saya berlinang, ada bagian dari hati saya yang belum bisa berdamai dengan hal yang telah berlalu, ada luka di hati saya yang masih saya bawa hingga hari ini, padahal untuk melewati ini semua, saya harus mengikhlaskannya berserah saja.




Raudhah di depan mata, para askar wanita seringkali galak pada jamaah, karena sebagian memang sulit diatur. Saya bergeser persis di sisi kanan makam Rasulullah, melakukan salat sunnah dua rakaat, dengan kondisi tak sempurna, karena bagian belakang saya tempat jamaah lain sujud, sementara sisi depan saya tempat arus jalur keluar. Namun berulang kali saya istigfar dan menyamankan diri, saya di depan makam rasul, satu-satunya yang diperbanyak adalah shalawat dan berdoa, menyebut-nyebut nama beliau, mencari perhatian dengan berbagai cara.


Kepala saya terinjak seorang jamaah, saat sujud, namun saya diam saja tidak melawan, saat sujud dan tertimpa itulah saya semakin dalam berdoa. Rasulullah..Inilah ummatmu penuh dosa, namun tak tahu malu tetap mengharap syafaatmu, hingga kepala hamba terinjak, hingga tubuh hamba terdorong, tapi hamba hanya ingin berdoa di depan makammu dan makam kekasihmu.

Saya menangis di Raudhah, lama sekali...





Comments

Post a Comment

Popular Posts