Review Novel Looking for Mr.Kim




  • Review by. Riawani Elyta (Novelis)



    Kapan ya terakhir kali saya baca teenlit? Sudah cukup lama juga. Seiring meningkatnya usia, juga jumlah anak ^_^ makin kesini saya makin kesulitan untuk bisa beradaptasi lagi dan menikmati novel teenlit. Namun, stempel naskah pilihan Bentang Belia pada cover novel Looking for Mr. Kim karya Aida Maslamah ini cukup bikin saya memasang ekspektasi sedikit tinggi untuk bisa menikmati novel remaja yang satu ini.

    Singkatnya, ini adalah novel tentang perjalanan Wika mencari ayah kandung yang tak pernah ia temui dan ketahui sejak lahir di negeri Ginseng (Korea). Saya masih ingat beberapa bagian dari behind the scene novel ini yang pernah di posting Aida di blognya. Salah satunya bahwa rentang waktu penulisan novel ini yang sangat singkat, hanya 2 minggu kalo tidak salah, dan menurut saya, masa sesingkat itu untuk menyelesaikan sebuah novel adalah pencapaian yang sangat luar biasa.

    Ya. Saya tak sungkan menyatakan salut, karena dalam waktu sesingkat itu, Aida berhasil mengemas alur yang cukup rapi, memiliki komposisi yang cukup seimbang mulai dari prolog hingga the end, juga setting negeri Korea yang lumayan baik untuk novel ini.

    Namun, masa yang sesingkat itu juga sangat memungkinkan terjadinya kecolongan pada plot dan logika. Dalam novel ini, menurut saya, alasan Wika untuk nekad pergi ke Korea mencari ayahnya tidak didukung oleh sebab yang cukup logis. Seberapa tinggi kadar kenekadan seorang gadis kelas sebelas untuk pergi ke LN seorang diri? Apalagi, karakter Wika yang anak tunggal di sini juga digambarkan sebagai pribadi yang manja, jadi dari sini saja sudah terasa sedikit ketidakharmonisan. Lalu, memiliki seorang ibu yang single parent, seperti apa gerangan jumlah uang saku yang dimiliki Wika hingga mampu menggunakan tabungannya sendiri untuk pergi ke Korea secara diam-diam? Termasuk perjalanan Wika bersama rekannya Bagas di Korea yang berpindah-pindah, mengesankan kalau mereka memang memiliki kemampuan dana untuk itu.

    Hal lainnya lagi, karena saya bukan orang medis, jadi, saya juga kurang tahu apakah dalam kurun waktu kira-kira 17 tahun yang lalu, sesuai setting waktu yang digunakan penulisnya untuk menuturkan kisah Maria, apakah pada masa itu hasil USG sudah bisa difoto dan terlihat jelas seperti halnya hasil foto 3 atau 4 dimensi dalam teknologi kedokteran sekarang ini?

    Kecolongan yang terlihat "kecil" ini, menurut saya sesungguhnya bisa diantisipasi oleh penerbit pada masa revisi sebelum terbit. Seperti misalnya, Wika ke Korea tidak sendirian, tetapi bergabung dengan rombongan backpacker misalnya, atau dia sudah pernah ke Korea sebelumnya ketika mengikuti pertukaran pelajar misalnya, sehingga merasa cukup punya bekal pengetahuan tentang Korea.

    Selebihnya, penuturan yang lancar, alur yang tertata cermat dan diksi yang khas meremaja membuat novel ini bisa dengan mudah dinikmati dan dipahami. Mau tahu bagian mana paling saya sukai dari novel ini? That's the ending! Hehe.....ya, open ending yang digunakan penulis, menurut saya berhasil "menyelamatkan" beberapa plot yang bolong juga menghindari kesan klise pada akhir novel ini.

    Emangnya endingnya apa sih? Beli n baca aja ya ^_^

Comments

Popular Posts