Meet and Greet Bersama Tim Bentang Belia


                                          Satu stage bersama penulis Bentang Belia

Jum’at lalu tanggal 29 Juni pukul 03.00 sore saya bersama beberapa orang penulis Bentang Belia lainnya mengisi Talkshow parade penulis Bentang Belia di stage utama Jakarta Book Fair. Mungkin ada yang menjadi follower-nya WowKonyol, tentu tahu dengan kicauannya yang konyol. Beruntung kali ini saya satu stage dengan si Onyol yang memang bener-bener konyol (hehehe), saya juga bersebelahan duduk dengan Fei (Penulis Novel Love Storm), Haris (penulis Date Note) catatan galau lelaki yang ditolak cintanya (heheheh) lalu ada Ayu Widya (Penulis Novel Frenemy) yang cantik banget, karena saking cantiknya sempat kedengaran di belakang stage ada yang mengira Mba Ayu salah satu personilnya Cherrybell (heuheuheu).

            Ada beberapa hal yang mungkin bisa saya ceritakan di sini. Pertama, bagaimana acara Talkshow dan pertemuan saya dengan teman sesama penulis juga tim Bentang Belia yang kebanyakan perempuan dan ternyata semuanya super rame. Saya sendiri harus menutupi umur saya kalau sudah mulai ikut nge-banyol bersama Dila (Editor Remaja), Susan (Editor Anak), Dita dan Mba Avee (Bagian promosi Bentang). Sepertinya kesan editor yang galak tidak berlaku untuk Dila dan Susan, karena mereka sangat friendly, meskipun ini baru pertama kalinya saya bertemu dengan mereka. Buat yang pingin tahu banyak tentang naskah remaja dan naskah anak bisa langsung komunikasi dengan Susan dan Dila, atau nanti bisa saya kenalkan (heheheh).

                                          Susan, Dita dan Dila (superrrrr heboh :)))

            Sebelum Talkshow berlangsung, saya bersama penulis dan tim Bentang Belia sempat makan siang bersama untuk persiapan Talkshow. Ternyata Talkshow bersama penulis lainnya itu cukup seru, apalagi kemudian saya tahu kalau si Onyol @WowKonyol punya follower yang sudah ribuan. Atau mendengar cerita Haris tentang ide kreatifnya tentang Date Note. Bayangkan saja isi buku Date Note itu rata-rata hasil ia berkali-kali ditolak cewek (heuheuheu), atau saya dapat pengetahuan literasi dengan Fei yang pinter banget, lalu Mba Ayu Widya yang ternyata selain penulis juga editor buku anak di Penerbit Erlangga. 

            Syukur Alhamdulillah Talkshow berjalan lancar, dan di akhir acara ada yang minta foto dan tanda tangan saya (sumpahh, kalau bagian ini saya rada nervous xixixix).
                                          Penulis Novel Looking for Mr.Kim beraksi :))

            Saya dan teman-teman penulis ini juga beruntung karena diperkenalkan langsung dengan CEO Bentang, Mas Salman Faridi yang sangat humble. Ini hal kedua yang saya rasa cukup penting untuk diceritakan mengenai isi obrolan kami tentang naskah-naskah yang diterima dalam lingkup Bentang Belia.

            Mas Salman banyak bercerita seputar bagaimana Bentang Pustaka itu menjadi bagian yang diakuisisi oleh Penerbit Mizan. Saya juga baru tahu kalau Bentang Belia sendiri baru dikukuhkan pada tahun 2011. Menariknya juga di sini ada beberapa hal yang mungkin bisa dicatat bagi teman-teman penulis, mengenai kriteria naskah yang diterima di Bentang Belia.

a.     Temanya Remaja, berdasarkan pangsa pasarnya adalah remaja, maka tulisan diterima di Bentang Belia hanya yang berbau remaja. Jika nonfiksi mungkin seputar psikologi remaja, kegalauan dan lain-lain. Seperti bukunya Mba Aci ‘No More Galau”.

b.     Untuk Novel remaja, sementara ini tema berbau Negeri Ginseng masih cukup laris manis, dan mereka kebanyakan menerima naskah berdasarkan Happening dan tema remaja yang paling in saat ini. Bukan dengan maksud ikut-ikutan, tapi lebih kepada kebutuhan dan keinginan para pembaca.

c.     Perlu diketahui juga, untuk screening naskah mereka punya beberapa editor remaja yang dipilih untuk magang di Bentang, kenapa disebut remaja karena mereka memang masih SMA. Jadi taste sebuah naskah remaja benar-benar diambil dari taste remaja yang dibaca langsung oleh editor remaja yang masih SMA ini. Termasuk naskah yang dipilih dalam event 30 hari 30 buku yang lalu. Bentang juga sebenarnya dibagi menjadi dua, 1) Teenlith, tokohnya rata-rata SMA dan dibaca oleh usia SMP, 2) Belia Middle-up, tokohnya kebanyakan sudah kuliah dan dibaca oleh usia SMA. Jadi, banyak kesempatan naskah yang bisa disodorkan ke Bentang Belia.

d.     Untuk syarat teknis naskah sama seperti event 30 hari 30 buku, minimal 120 dan maksimal 200 halaman dengan spasi ganda, margin 3443. Untuk mengetahui bagaimana naskah yang mereka ambil, bisa langsung baca novel-novel pemenang di event tersebut, jangan lupa “Looking for Mr.Kim” juga ikut masuk list ya (teuteuppp..promo heuheuheu).

Saya senang hari itu bisa bertemu dengan orang-orang yang hebat, kreatif dan tim sukses di balik terbitnya sebuah buku dari sebuah penerbit. Akhir dari cerita ini, ada hal yang lebih membahagiakan lagi buat saya. Semenjak sampai di JBF saya sudah keliling-keliling mencari ATM terdekat karena saya memang kehabisan cash, eh ternyata oh ternyata justru sebelum pulang saya dikantongi sebuah amplop dari Mba Avee, katanya untuk biaya transport (Alhamdulillah..hehehhe). Dalam hati berbisik sendiri “Sering-sering aja diundang acara beginian ya” heuheuheu.

******

Aida MA
The Ritz-Carlton, Mega Kuningan
      30 Juni 2012. Pukul 22.47 WIB



           


            

Comments

  1. waaah... kok gak bikin janji sama anak-anak BaW yg ada di Jakarta, mba Aida? Kan siapa tahu bisa pada datang juga...

    ReplyDelete
    Replies
    1. udah mba...aku udah ngabarin semuanya..di twiiter, grup, grup BB semua udah tak kabar kabari...tapi kayaknya pada sibuk semua, mungkin jadwalnya kurang pas :)

      Delete
  2. nangis baca cerita ini, Haris ada di sana ya, sahabat kentel aku banget dia Kak :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts