Tiger Lily



Mengapa lily yang harus kuliah di bandung, mengapa bukan leny saja??mengapa semua hal yang Lily sukai lalu kemudian harus menyukai Leny juga?? Dan Lily selalu hanya begini, sendiri,.....
Aku menangisi keputusan papa yang memutuskanku untuk kuliah di Bandung saja. Beberapa hal yang kurang menyenangkan terjadi antara aku dan Leny adikku yang terpaut 1 tahun dariku. Ini semua untuk kebaikan hubunganku dengan Leny, hanya itu kalimat yang belum mampu kufahami saat itu.
Oh, bukan salahmu Leny adikku yang cantik rupawan, jika laki-laki yang menaruh hati padaku kemudian justru jatuh cinta padamu. Sama sekali bukan salahmu adikku. Hanya mata lelaki itu lebih tertarik pada kecantikan fisikmu yang melenakan mereka. Setidaknya aku menyukuri mengenali tabiat lelaki yang mendekatiku.
Aku tak pernah kalah setia dengan Tiger Lily yang setia menanti sang mentari menghampiri. Selalu berdiri menunjukkan diriku bahwa aku menunggu sang mentari.
Foto Leny dalam balutan kebaya putih begitu terlihat sangat cantik di mataku. Seorang pangeran pilihan hati telah membawanya pergi dalam istana pernikahan.
Lalu aku???? Aku masih di sini, mulai menatapi kelahiran anak-anak Leny yang kini mulai remaja,...
******
Lily menatapi wajah sendu ibunya yang duduk di kursi roda. Wanita tua itu telah kehilangan semangat hidupnya semenjak suaminya tiada. Lily selalu mengajaknya tersenyum karena hanya Lily yang selalu setia menemaninya. Lily tertawa walaupun gusar kerap tersirat dari balik tawanya.
Lily melingkari sebuah tanggal di bulan April, jumlah umurnya kian bertambah di tanggal itu. Dua angka yang cukup besar, angka yang mendekati usia manopausenya para wanita.
Namaku lily, layaknya sekuntum tiger lily, aku selalu menanti sang mentari mengajakku menikmati indahnya kehidupan. Hingga usiaku telah beranjak 54 tahun di tahun ini. Aku masih menanti, jika pun tak mungkin lagi, bagiku hidupku cukup berbakti pada dua hati yang telah membesarkanku dan pada pemilik hati yang mungkin tak menciptakan pasangan hatiku di dunia ini. ---Tiger Lily---
Jakarta, 16 february 2011
Aida M Affandi

Comments

Popular Posts