Aku Hanya,....



Segerombolan camar menghalau redup mentari. Bergegas pulang menikmati indahnya sebuah kediaman. Ah, camar saja merindukan pulang menepi bersama gelapnya malam.
Senja kini mengapa begitu meragu. Dibandingkan siluet senja yang menjuntai jingga, aku lebih merindui kilau emas diantara celah jemariku yang mengitari ufuk timur yang merona semarak keemasan.
Segarit lakumu tlah menerjang rasaku. Begitu berat menjadi tungku yang menggelegakkan air. Begitu berat menjadi kipas yang menyejukkanmu dan begitu berat menjadi sumur yang melepaskan dahagamu.
Aku ternyata tak pernah begitu dalam halusnya harapmu.
Aku hanya langit tanpa gumpalan awan,...
Aku hanya sumur,... tanpa air.

Jakarta, 12 February 2011
Aida M Affandi

Comments

Popular Posts